| “Buuuuk. Very good. Very good!”, kata Syarif, murid kelas VII B yang mengacungkan ibu jari sambil tersenyum lebar kearah Ibu Guru Bahasa Inggris yang berdiri tidak jauh darinya. Syarif baru saja menuliskan jawaban di papan tulis. Dia percaya diri penuh bahwa apa yang ditulisnya itu benar. Oleh karena itu, dia berharap untuk dipuji. Terbukti, sebelum Ibu Guru itu mengecek kebenaran apa yang ditulisnya, dia sudah berteriak “Very good. Very good.” Sungguh peristiwa kecil ini menggelitik benak saya. Pada dasarnya semua orang ingin diakui eksistensinya. Syarif adalah salah satu dari sekian siswa yang mempunyai mimpi untuk diakui bahwa dia bisa. Ungkapan sangat sederhana yang diucapkan oleh Syarif menimbulkan beberapa gagasan. Pertama, spontanitas Syarif mengucapkan “Very good. Very good,” sembari mengacungkan ibu jari menandakan bahwa ungkapan ini tidak asing baginya. Dia menggunakannya sesuai dengan kondisi dan situasi saat itu. Secara implisit dapat ditarik kesimpulan bahwa Guru Syarif sudah terbiasa memberi pujian dengan ungkapan “Very good. Very good,” kepada siswa yang berhasil menyesaikan suatu tugas dengan baik. Kedua, keceriaan wajah Syarif ketika mengharapkan Gurunya memberikan ungkapan itu kepadanya menunjukkan betapa besar arti dari “Very good. Very good” bagi dia. Tidak menutup kemungkinan bahwa banyak Syarif Syarif lain yang memimpikan perlakuan yang sama dari seorang guru. Masalahnya adalah bahwa tidak semua siswa bisa dan terbiasa mengekspresikan harapan mereka seperti yang dilakukan oleh Syarif. Di dalam Kamus Bahasa Indonesia online kata “pujian”[1] termasuk kata benda yang berarti pernyataan memuji atas kepandaian seseorang. Sedangkan kata “khasiat”[2] adalah kata benda yang artinya faedah atau kegunaan yang bersifat khas. “hebat”[3] termasuk kata sifat yang maknanya adalah terlampau, amat sangat (dahsyat, ramai, kuat, seru, bagus, menakutkan, dsb). Jadi judul “Khasiat Hebat Pujian” dapat diartikan dengan “Faedah atau kegunaan dasyat atas pernyataan memuji”. Berhubung konteks pembicaraan adalah kegiatan kelas maka pujian yang dimaksud adalah atas kepandaian seseorang. Proses belajar mengajar yang bertujuan untuk membuat siswa memahami apa yang diajarkan memerlukan berbagai aspek, antara lain; guru, siswa, sarana dan prasarana, serta faktor-faktor pendukung lain. Keberhasilan suatu proses belajar mengajar tidak hanya ditentukan oleh faktor intelektual semata. Akan tetapi, faktor-faktor non–intelektual besar sekali peranannya. Keselarasan perkembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik akan dapat berkembang secara sinergik dan terpadu jika ada motivasi di dalamnya. Daniel Goleman[4] (2004: 44) mengatakan bahwa kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, di antaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati (mood), ber-empati[5] (mempunyai keadaan mental yg membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yg sama dengan orang atau kelompok lain) serta kemampuan bekerja sama. Pendapat Goleman dapat dijadikan sebagai acuan bahwa guru sebagai sutradara yang mengendalikan seluruh aktifitas di kelas untuk mencapai keberhasilan siswa perlu memiliki semangat untuk membangkitkan motivasi. Salah satunya adalah dengan pujian. Pujian dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pertama dengan ucapan, contohnya: “Bagus. Hebat. Luar biasa. Nah begitu caranya. Pinter. Good. Very good. Good boy. Good girl. Very nice. Excellent. Wah indah sekali gambarmu. Wow ... perfect. Wow ... rapi sekali. Kamu hebat lho. Nah, gampang kan? Kerjakan lagi latihan berikutnya ya. Kamu pasti bisa.” Kapan saatnya guru memotivasi siswa? Anytime. Jawabnya kapan saja. Bisa diawal, ditengah atau pada akhir pelajaran. Ketika ada siswa yang berhasil menyelesaikan sesuatu dengan baik. Pujian bermanfaat baik bagi siswa yang mendapatkannya maupun teman-teman sekelasnya. Mendapat pujian tentu menyenangkan. Sesuatu yang menyenangkan mampu membakar semangat siswa yang dipuji untuk mencapai sukses yang lebih baik lagi. Sedangkan siswa yang lain tentu terpacu juga untuk meraihnya. Dampaknya adalah mereka berusaha untuk dapat menjawab dengan baik pula. Cara kedua untuk memberi pujian adalah dengan memberikan “reward” yang berupa barang atau simbol. Barang-barang yang lucu, sederhana, dan tidak mahal tersedia di berbagai toko. Guru dapat menempelkan sticker kecil pada karya siswa. Jumlahnya bertingkat. Semakin bagus semakin banyak sticker yang diberikan. Barang-barang yang sekiranya tidak berguna di rumah guru seperti gantungan kunci, pembatas buku, atau pernik-pernik kecil lain dapat diusung ke kelas untuk diberikan sebagai hadiah. Ada cara lain, misalnya dengan memberikan cap gambar lucu. Cap sangat mudah dan murah untuk didapatkan. Dengan meraih kocek kurang dari dua puluh lima ribu rupiah, Guru dapat memesan cap tersebut. Bagi orang dewasa hal ini nampak sederhana, namun itu sangat bermakna bagi para siswa. Untuk siswa SMP atau SMA, hadiah berupa voucher jajan di kantin sekolahpun sangat memungkinkan untuk diberikan dan memacu semangat para siswa untuk mendapatkannya. Pujian sangat berdaya guna bagi siswa. Cara memberikannya pun tidak sulit. Cukup dengan ucapan atau pemberian benda-benda sederhana. Selain itu, memberikan pujian kepada siswa juga tidak memerlukan banyak biaya. Kiranya tidak berlebihan jika sebagai guru mulai saat ini lebih sering membagi pujian. Pujian tepat yang mampu menyentuh hati siswa, sangat mungkin dapat menjadi sumber inspirasi dan pemantik api motivasi pengembangan minat serta bakat mereka. Membagi pujian pasti menyenangkan. Sesuatu yang menyenangkan akan membuahkan kebaikan. A’a Gym, sang pengkotbah kondang, mengatakan untuk berbuat kebaikan jangan kenal kata tunda. “Mulailah saat ini, di sini.” Maka segera lakukan di kelas Anda. Tunggu apa yang terjadi?????? Demikian Mario Teguh, Master motivator, selalu mengakhiri ungkapan indahnya. Selamat mencoba.
|